mantan pemain Manchester United bersinar di klub lainDiego Forlan. Striker Uruguay yang kini berusia 43 tahun dan telah pensiun pada Agustus 2019 bersama Kitchee ini menjadi satu-satunya pemain Uruguay yang mampu meraih trofi juara Premier League. Ia melakukannya bersama Manchester United pada musim 2002/2003, yaitu di musim keduanya bersama Setan Merah yang diperkuatnya selama 3 musim mulai tengah musim 2001/2002 hingga akhir musim 2003/2004 usai didatangkan dari Independiente. Gelar lain yang diraihnya adalah Piala FA 2003/2004 dan Community Shield tahun 2003. Bersama Setan Merah ia total tampil dalam 97 laga di semua ajang dengan torehan 17 gol dan 9 assist. (AFP/Paul Barker)

Scorepost, Jakarta Manchester United dikenal sebagai salah satu klub terbesar di dunia dengan sejarah panjang prestasi dan pemain bintang. Namun, di balik reputasi tersebut, tidak sedikit pemain yang justru gagal menemukan performa terbaiknya saat mengenakan seragam Setan Merah. Tekanan besar, ekspektasi tinggi, hingga perubahan manajerial kerap membuat sejumlah nama potensial tak mampu berkembang maksimal di Old Trafford.

Menariknya, beberapa pemain yang dianggap “gagal” bersama Manchester United justru menemukan kembali performa terbaik mereka setelah hengkang. Di klub lain, mereka tampil lebih lepas, konsisten, bahkan menjelma menjadi legenda. Fenomena ini menegaskan bahwa kecocokan sistem, timing, dan kepercayaan pelatih sering kali lebih menentukan ketimbang label klub besar.

Berikut enam mantan pemain Manchester United yang tidak berjodoh di Old Trafford, tetapi justru menggila setelah pindah ke klub lain, sebagaimana dirangkum dari berbagai catatan karier mereka.

1. Wilfried Zaha

Wilfried Zaha. Didatangkan Alex Ferguson pada Januari 2013 sebagai rekrutan terakhir, tak sekalipun ia bermain hingga Sir Alex pensiun di akhir musim. Hanya bermain 4 kali di musim 2013/2014, ia sempat dipinjamkan ke Cardiff City hingga akhirnya kembali ke Crystal Palace. (AFP/Adrian Dennis)

Wilfried Zaha datang ke Manchester United sebagai talenta muda paling menjanjikan dari Inggris setelah tampil impresif bersama Crystal Palace. Sayangnya, kedatangannya bertepatan dengan masa transisi klub usai pensiunnya Sir Alex Ferguson. Di bawah era baru, Zaha minim kesempatan bermain dan kesulitan menembus skuad utama.

Ia hanya mencatatkan beberapa penampilan sebelum akhirnya dilepas kembali ke Crystal Palace. Keputusan itu justru menjadi titik balik kariernya. Bersama Palace, Zaha berkembang menjadi winger eksplosif dan salah satu pemain paling berbahaya di Premier League selama bertahun-tahun.

2. Gerard Piqué

Gerard Pique bergabung ke Manchester United saat berusia 17 tahun dari akademi Barcelona. Performanya sebagai bek tengah sebenarnya baik, namun kalah bersaing dengan Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Sempat dipinjamkan, Pique akhirnya memutuskan untuk kembali ke Barcelona. (AFP/Andrew Yates)

Gerard Pique sebenarnya menjadi bagian dari skuad Manchester United yang menjuarai Liga Champions 2007/2008. Namun, ketatnya persaingan di lini belakang membuatnya jarang mendapat menit bermain. United akhirnya melepasnya kembali ke Barcelona.

Keputusan tersebut terbukti krusial bagi karier Piqué. Di Barcelona, ia menjelma menjadi bek kelas dunia, memenangkan berbagai gelar bergengsi, termasuk Liga Champions, La Liga, hingga treble winners. Bersama Timnas Spanyol, Piqué juga meraih Piala Dunia 2010 dan Euro 2012.

3. Tim Howard

Tim Howard awalnya dipinjamkan oleh Manchester United ke Everton pada 2006 kemudian pada 2007 EThe Toffes resmi permanenkan Howard. Bersama Everton Howard tampil sebanyak 329 kali dan mencetak satu gol. (Laurence Griffiths/Getty Images/AFP)

Tim Howard sempat menjadi pilihan utama Manchester United pada awal 2000-an. Meski tidak tampil buruk, posisinya perlahan tergeser seiring perubahan strategi dan kedatangan kiper baru. Ia kemudian dilepas dan bergabung dengan Everton.

Di sinilah Howard benar-benar menemukan identitasnya. Bersama Everton, ia tampil konsisten selama hampir satu dekade dan dikenal sebagai salah satu penjaga gawang paling andal di Premier League. Jumlah penampilannya menembus ratusan laga dan menjadikannya ikon di Goodison Park.

4. Dion Dublin

Dion Dublin merupakan bagian dari skuad Manchester United pada era 1990-an, tetapi jarang mendapat kesempatan bermain reguler. Padahal, ia memiliki kualitas sebagai penyerang yang cukup komplet.

Setelah meninggalkan Old Trafford, karier Dublin justru melejit. Bersama Coventry City dan Aston Villa, ia mencetak lebih dari 100 gol di Premier League. Produktivitas tersebut membuktikan bahwa Dublin hanya membutuhkan panggung yang tepat untuk menunjukkan kualitasnya.

5. Diego Forlán

Diego Forlan. Striker asal Uruguay ini didatangkan Manchester United dari Independiente pertengahan musim 2001/2002. Setelah 2,5 musim membela Setan Merah dengan total penampilan sebanyak 98 kali dan mencetak 17 gol ia hijrah ke Villarreal di awal musim 2004/2005. (AFP/Paul Barker)

Diego Forlan sering dikenang sebagai penyerang yang kurang tajam saat membela Manchester United. Selama berseragam Setan Merah, ia kesulitan mencetak gol secara konsisten dan kerap menjadi sasaran kritik.

Namun, setelah pindah ke Spanyol, Forlán menjelma menjadi mesin gol. Bersama Villarreal dan Atletico Madrid, ia meraih dua Sepatu Emas Eropa dan menjadi salah satu penyerang terbaik La Liga. Prestasinya bersama Timnas Uruguay pun mengesankan, termasuk menjadi pemain terbaik Piala Dunia 2010.

6. Tom Heaton

Tom Heaton – Kiper jebolan akademi Setan Merah ini tercatat pernah masuk skuad tim utama MU pada 2005- 2010. Namun selama periode itu ia selalu dipinjamkan ke klub lain. Heaton kembali ke Old Trafford pada musim panas ini dengan status bebas transfer. (Foto:AFP/Paul Ellis)

Tom Heaton menghabiskan bertahun-tahun sebagai pemain Manchester United tanpa pernah tampil di level senior. Ia lebih sering dipinjamkan ke klub lain dan akhirnya dilepas secara permanen.

Karier Heaton justru berkembang pesat saat memperkuat Burnley. Ia menjadi kiper utama dalam waktu lama dan tampil konsisten di Premier League, hingga akhirnya mendapat panggilan ke Timnas Inggris. Menariknya, Heaton sempat kembali ke Manchester United pada fase akhir kariernya dengan status pemain berpengalaman.

Bukti Bahwa “Tak Cocok” Bukan Berarti Gagal

Kisah enam pemain di atas menunjukkan bahwa kegagalan di Manchester United tidak selalu mencerminkan kualitas seorang pemain. Faktor waktu, sistem permainan, dan kepercayaan pelatih sangat memengaruhi perjalanan karier.

Bagi Manchester United, daftar ini juga menjadi refleksi bahwa mengelola talenta sama pentingnya dengan merekrut pemain bintang. Sementara bagi para pemain, meninggalkan Old Trafford justru menjadi langkah terbaik untuk menyelamatkan dan mengembangkan karier.

Sumber: Planet Football

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *