Scorepost, Jakarta – Pelatih asing Timnas Indonesia kembali menjadi sorotan setelah PSSI dikabarkan akan segera mengumumkan pelatih baru. Di tengah ambisi besar menuju Piala Dunia 2030, ketergantungan federasi pada juru taktik asing memunculkan perdebatan soal minimnya kepercayaan terhadap pelatih lokal.
Rencana PSSI untuk segera mengumumkan pelatih baru Timnas Indonesia kembali memunculkan diskusi panjang di kalangan pemerhati sepak bola nasional. Nama John Herdman disebut sebagai kandidat terkuat untuk menukangi skuad Garuda, dengan target ambisius membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia 2030.
Meski rekam jejak Herdman bersama Kanada di Piala Dunia 2022 menjadi nilai jual utama, keputusan menunjuk pelatih asing kembali menuai kritik. Sebagian kalangan menilai PSSI terlalu lama bergantung pada figur asing dan belum menunjukkan keberanian memberikan ruang bagi pelatih lokal untuk memimpin tim nasional.
Salah satu suara yang konsisten menyuarakan pandangan tersebut datang dari tokoh sepak bola senior Indonesia, Dali Tahir. Ia menilai sudah saatnya PSSI mengubah pola pikir dalam membangun tim nasional, khususnya dalam hal kepercayaan terhadap pelatih dalam negeri.
Pelatih Lokal Dinilai Belum Diberi Ruang Nyata
Menurut Dali Tahir, Indonesia sejatinya tidak kekurangan pelatih berkualitas. Masalah utamanya bukan pada ketersediaan sumber daya manusia, melainkan pada minimnya kepercayaan yang diberikan oleh federasi maupun klub-klub papan atas.
Ia menilai sejak era kepelatihan asing di Timnas Indonesia, keterlibatan pelatih lokal masih sebatas pelengkap. Dalam beberapa periode terakhir, pelatih kepala selalu berasal dari luar negeri, sementara pelatih lokal hanya mengisi satu atau dua posisi asisten.
Kondisi tersebut dinilai menghambat proses transfer ilmu dan regenerasi kepelatihan di level tim nasional. Jika pola ini terus berlanjut, pelatih lokal akan kesulitan mendapatkan pengalaman memimpin tim di level tertinggi.
Data Lisensi Tak Sejalan dengan Kesempatan

Dali Tahir juga menyoroti fakta bahwa Indonesia memiliki jumlah pelatih berlisensi yang cukup besar. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam ajang National Coaching Conference di Jakarta pada Juli 2025, Indonesia memiliki ribuan pelatih dengan berbagai jenjang lisensi, mulai dari Diploma D hingga AFC Pro.
Jumlah pelatih dengan lisensi tertinggi memang tidak sebanyak negara maju sepak bola, namun secara keseluruhan, angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis pelatih yang luas. Sayangnya, realitas di lapangan tidak mencerminkan potensi tersebut.
Banyak pelatih lokal justru terpinggirkan dan hanya berkarier di liga-liga bawah. Di Liga 1, peran pelatih lokal semakin jarang terlihat, sementara klub lebih memilih pelatih asing, bahkan yang rekam jejaknya biasa saja.
Menurut Dali Tahir, situasi ini patut menjadi bahan evaluasi serius bagi PSSI. Ia mempertanyakan apakah kualitas pelatih lokal memang dianggap belum memadai, atau justru sistem yang tidak memberikan ruang berkembang.
Contoh Positif dari Level Usia Muda
Meski kritis, Dali Tahir juga memberikan apresiasi terhadap beberapa langkah positif yang sudah dilakukan di level tim nasional kelompok umur. Ia menilai struktur kepelatihan Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025 menjadi contoh baik dalam melibatkan pelatih lokal.
Kehadiran nama-nama seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Zulkifli Syukur, dan Sahari Gultom dinilai sebagai bentuk keberanian dalam memberi tanggung jawab kepada mantan pemain nasional yang kini meniti karier sebagai pelatih.
Hal serupa juga terlihat di Timnas Indonesia U-17 yang tampil di Piala Dunia U-17. Struktur staf kepelatihan yang lebih banyak diisi pelatih lokal dianggap sebagai langkah maju dalam proses regenerasi.
Namun demikian, Dali Tahir menilai kesempatan tersebut masih datang terlalu lambat. Banyak pelatih potensial baru mendapatkan peran penting ketika usia mereka sudah mendekati 50 tahun.
Regenerasi Dinilai Terlambat Dimulai
Dalam pandangannya, PSSI seharusnya lebih berani mengorbitkan pelatih muda sejak dini. Dengan memberi kesempatan lebih awal, pelatih lokal dapat berkembang secara bertahap dan memiliki jam terbang yang cukup sebelum dipercaya menangani tim senior.
Ia mencontohkan negara-negara Asia Tengah seperti Uzbekistan yang berani mempercayakan tim nasional kepada pelatih muda dengan pendekatan modern. Hasilnya, regenerasi berjalan lebih cepat dan identitas permainan tim menjadi lebih jelas.
Menurut Dali Tahir, sepak bola modern menuntut adaptasi cepat terhadap perubahan taktik, sport science, dan manajemen pemain. Tantangan ini, menurutnya, justru lebih mudah dihadapi oleh pelatih muda yang terbuka terhadap perkembangan zaman.
Kritik terhadap Pola Lama

Dali Tahir juga mengingatkan bahwa pelatih senior seharusnya memahami dinamika zaman. Ia tidak menolak kehadiran pelatih asing secara mutlak, namun menilai penggunaannya harus disertai tujuan jelas dalam pengembangan pelatih lokal.
Ia menyebut bahwa pelatih senior dunia dengan prestasi luar biasa tentu memiliki nilai tambah tersendiri. Namun jika pelatih asing hanya menjadi solusi jangka pendek tanpa transfer pengetahuan yang jelas, maka ketergantungan akan terus berulang.
Menurutnya, keberanian PSSI untuk memberi kepercayaan kepada pelatih lokal bukan hanya soal nasionalisme, tetapi juga bagian dari pembangunan ekosistem sepak bola yang berkelanjutan.
Harapan ke Depan
Wacana penunjukan pelatih baru Timnas Indonesia seharusnya menjadi momentum refleksi. Di tengah ambisi besar menuju Piala Dunia 2030, PSSI dituntut tidak hanya mengejar hasil instan, tetapi juga memikirkan fondasi jangka panjang.
Keberanian memberi kesempatan kepada pelatih lokal dinilai sebagai salah satu langkah penting untuk membangun identitas sepak bola nasional yang kuat dan mandiri.
Sumber: Pernyataan Dali Tahir, data PSSI, National Coaching Conference 2025

