Scorepost, Jakarta – Ambisi besar kembali ditegaskan Mohamed Salah. Penyerang andalan Timnas Mesir itu secara terbuka mengungkapkan tekadnya untuk mempersembahkan trofi Piala Afrika 2026 bagi negaranya, sebuah gelar prestisius yang hingga kini belum pernah singgah di lemari prestasinya.
Bagi Salah, turnamen Africa Cup of Nations memiliki makna emosional yang sangat kuat. Meski telah meraih hampir semua gelar bergengsi di level klub—mulai dari Liga Inggris hingga Liga Champions bersama Liverpool—Piala Afrika tetap menjadi satu-satunya trofi besar yang belum ia raih sepanjang karier profesionalnya.
“Ini adalah gelar yang sangat saya inginkan. Saya sudah memenangkan banyak hal, tapi trofi ini belum pernah saya dapatkan,” ujar Salah dalam wawancara terbarunya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa AFCON 2026 bukan sekadar turnamen biasa, melainkan misi pribadi bagi pemain berusia 32 tahun tersebut.
Perjalanan Mesir Menuju Semifinal
Langkah Mesir di Piala Afrika 2026 sejauh ini terbilang meyakinkan. The Pharaohs mampu melaju hingga babak semifinal setelah menyingkirkan Pantai Gading dalam laga perempat final yang berjalan ketat dan penuh tensi. Kemenangan tersebut semakin menguatkan keyakinan publik Mesir bahwa tim nasional mereka masih memiliki daya saing untuk berbicara banyak di level Afrika.

Meski begitu, Salah menegaskan bahwa jalan menuju trofi tidak akan mudah. Menurutnya, kekuatan tim-tim Afrika saat ini semakin merata, sehingga setiap pertandingan bisa menjadi penentu nasib. Ia pun menolak anggapan bahwa Mesir adalah favorit mutlak juara.
“Saya tidak ingin menyebut kami sebagai favorit. Tim-tim lain yang tersisa juga memiliki kualitas yang sangat tinggi, dengan banyak pemain yang berkarier di Eropa,” kata Salah.
Hadapi Senegal, Ujian Sesungguhnya
Di babak semifinal, Mesir dijadwalkan menghadapi Timnas Senegal, salah satu kekuatan utama sepak bola Afrika dalam satu dekade terakhir. Duel ini diprediksi menjadi ujian terberat bagi Mesir, mengingat Senegal memiliki komposisi pemain yang solid, baik dari sisi pengalaman maupun kualitas individu.
Meski demikian, Salah menegaskan bahwa status bintang yang ia miliki tidak boleh menjadi beban bagi rekan-rekannya. Ia justru siap memikul seluruh tekanan dan sorotan media agar pemain lain bisa tampil lebih lepas di lapangan.
“Biarkan tekanan itu ada di pundak saya. Saya ingin para pemain lain bermain tanpa rasa takut. Kami adalah satu tim, dan kemenangan hanya bisa diraih jika semua fokus pada permainan,” tegasnya.
Kepemimpinan Sang Kapten
Sikap Salah tersebut mencerminkan kedewasaan dan jiwa kepemimpinan yang kian matang. Ia menyadari betul bahwa statusnya sebagai ikon sepak bola Mesir dan Afrika kerap membuat ekspektasi publik sangat tinggi. Namun, alih-alih menghindar, Salah justru memilih menjadikan tekanan itu sebagai bahan bakar motivasi.

Menurut pengamat sepak bola Afrika, kehadiran figur seperti Salah sangat penting dalam fase krusial turnamen. Bukan hanya karena kontribusi gol atau assist, tetapi juga karena pengaruh mental yang ia berikan kepada seluruh tim.
Mahkota Terakhir Karier Gemilang?
Jika Mesir mampu melangkah hingga final dan keluar sebagai juara Piala Afrika 2026, maka trofi tersebut akan menjadi mahkota terakhir yang menyempurnakan perjalanan karier Mohamed Salah. Gelar itu juga berpotensi mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain Afrika terhebat sepanjang masa.
Kini, seluruh perhatian tertuju pada kiprah Mesir di semifinal. Apakah Mohamed Salah mampu menepati janjinya dan membawa negaranya kembali berjaya di pentas Afrika? Jawabannya akan segera terungkap di laga hidup-mati yang penuh gengsi dan emosi.

