074897700_1768259119-xabi-alonso-scorepost074897700_1768259119-xabi-alonso-scorepost
Meski kalah tipis 2-3, penampilan Madrid dinilai tidak mencerminkan standar permainan yang diharapkan dari klub sebesar Real Madrid.

Scorepost, Jakarta – Keputusan mengejutkan diambil Real Madrid pada awal 2026. Los Blancos resmi mengakhiri kerja sama dengan Xabi Alonso, hanya sehari setelah kekalahan 2-3 dari Barcelona pada final Piala Super Spanyol. Hasil tersebut menjadi penutup singkat perjalanan Alonso sebagai pelatih kepala di Santiago Bernabeu.

Pemecatan ini terasa kontras dengan performa Madrid dalam beberapa pekan sebelumnya. Menjelang final, Madrid sempat mencatat lima kemenangan beruntun di berbagai ajang, termasuk kemenangan penting atas Atletico Madrid. Rangkaian hasil positif itu sempat meredakan tekanan yang mengarah kepada Alonso, sekaligus memberi harapan proyek jangka panjang masih mendapat kepercayaan manajemen.

Namun, kekalahan dari rival abadi di partai final menjadi titik balik. Setelah melalui evaluasi internal, manajemen dan Alonso sepakat bahwa kerja sama ini tidak lagi sejalan dengan visi klub. Real Madrid kemudian bergerak cepat menunjuk Álvaro Arbeloa, yang sebelumnya menangani Castilla, sebagai pelatih kepala tim utama.

Jurnalis El Chiringuito TV, Jose Luis Sanchez, mengungkap ada tiga faktor utama yang melatarbelakangi keputusan besar tersebut.


Persiapan Fisik Dinilai Bermasalah

Salah satu sorotan terbesar sepanjang musim ini adalah kondisi kebugaran skuad Real Madrid. Cedera datang silih berganti dan membuat komposisi tim kerap berubah dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya. Situasi tersebut dinilai mengganggu stabilitas permainan, terutama saat Madrid menghadapi lawan dengan intensitas tinggi.

Tidak hanya jumlah pemain cedera yang meningkat, Madrid juga beberapa kali kalah dalam duel fisik krusial. Hal ini memicu kekhawatiran serius di internal klub terkait metode persiapan fisik yang diterapkan di era Alonso. Evaluasi medis dan teknis menyimpulkan bahwa pendekatan tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan tuntutan kompetisi level tertinggi.

Sebelum pemecatan resmi diumumkan, bahkan sempat muncul wacana untuk memulangkan Antonio Pintus ke staf kepelatihan tim utama. Dengan Arbeloa kini mengambil alih kendali, peluang kembalinya Pintus sebagai pelatih fisik disebut semakin terbuka.


Hubungan dengan Pemain Kunci Tak Harmonis

Hubungan sang pelatih dengan beberapa pemain inti dikabarkan tidak lagi berjalan harmonis

Faktor kedua yang mempercepat kepergian Alonso adalah dinamika ruang ganti. Hubungan sang pelatih dengan beberapa pemain inti dikabarkan tidak lagi berjalan harmonis. Nama Vinicius Junior disebut-sebut menjadi salah satu yang kerap mengalami perbedaan pandangan terkait peran dan pendekatan taktik.

Selain itu, Federico Valverde juga dilaporkan beberapa kali menunjukkan ketidakpuasan terhadap peran yang diberikan kepadanya di lapangan. Meski tidak pernah disampaikan secara terbuka, sinyal ketegangan ini menjadi perhatian serius manajemen.

Bagi Real Madrid, keharmonisan ruang ganti adalah fondasi utama dalam perburuan gelar. Ketika kepercayaan antara pelatih dan pemain mulai retak, manajemen menilai risiko jangka panjang terlalu besar untuk dibiarkan berlarut-larut.


Performa Final Dinilai Tak Mencerminkan Standar Klub

Alasan terakhir sekaligus pemicu langsung keputusan ini adalah performa Real Madrid pada final Piala Super Spanyol. Meski kalah tipis 2-3, penampilan Madrid dinilai tidak mencerminkan standar permainan yang diharapkan dari klub sebesar Real Madrid.

Secara taktikal, Madrid dianggap gagal mengontrol ritme permainan, terutama di momen-momen krusial. Barcelona tampil lebih siap dan efektif, sementara Madrid terlihat kesulitan merespons perubahan permainan lawan.

Kekalahan di laga bertajuk El Clasico, terlebih di partai final, dianggap mencoreng citra klub di level internasional. Manajemen menilai proyek Alonso tidak lagi memberikan keyakinan penuh untuk dilanjutkan, terlebih dengan tuntutan target juara yang selalu melekat pada Los Blancos.


Era Baru di Bawah Arbeloa

Nama Vinicius Junior disebut-sebut menjadi salah satu yang kerap mengalami perbedaan pandangan terkait peran dan pendekatan taktik.

Dengan penunjukan Arbeloa, Real Madrid berharap menemukan kembali stabilitas dan arah baru untuk menyelamatkan sisa musim. Mantan bek kanan Madrid itu dinilai memahami kultur klub dan memiliki kedekatan dengan generasi pemain muda.

Perubahan ini sekaligus menandai babak baru bagi Real Madrid, yang kini berambisi kembali bersaing di semua kompetisi. Keputusan memutus era Xabi Alonso mungkin terasa keras, tetapi bagi klub sebesar Real Madrid, hasil dan kestabilan tetap menjadi prioritas utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *