Scorepost, Jakarta – Direktur Persija Jakarta, Mohamad Prapanca, akhirnya angkat bicara terkait sindiran yang menyebut klubnya sebagai “APBD FC” di media sosial. Julukan tersebut muncul setelah Persija diketahui mendapat dukungan sponsor dari beberapa Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta pada musim BRI Super League 2025/2026.
Empat BUMD yang menjalin kerja sama dengan Persija yakni Bank Jakarta, MRT Jakarta, TransJakarta, dan PAM Jaya. Kehadiran sponsor tersebut memunculkan berbagai komentar dari warganet yang menuding klub ibu kota itu menerima dana dari APBD.
Prapanca menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak benar. Ia menyebut kerja sama yang terjalin merupakan bentuk kolaborasi profesional antara Persija dan perusahaan milik daerah, bukan pemberian dana secara cuma-cuma.
Sindiran Netizen Bikin Manajemen Persija Risih

Julukan APBD FC yang ramai di media sosial ternyata cukup mengganggu manajemen Persija. Prapanca mengaku merasa tidak nyaman dengan narasi tersebut.
Menurutnya, komentar semacam itu sering muncul tanpa pemahaman yang jelas mengenai mekanisme kerja sama antara klub dan sponsor.
“Agak risih juga dengarnya. Saya juga tidak tahu itu buzzer, suporter Persija, atau mungkin provokator,” ujar Prapanca dalam acara Ngopi Bareng Persija di Jakarta Selatan.
Ia menilai media sosial sering kali menjadi ruang bebas bagi siapa pun untuk menyampaikan opini tanpa filter yang jelas.
“Karena kelemahan kita dalam filter digital, akhirnya semua orang merasa bebas berkomentar seperti itu di media sosial,” lanjutnya.
Kolaborasi dengan Gubernur Jakarta

Prapanca kemudian menjelaskan bahwa kerja sama Persija dengan BUMD berawal dari visi Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang ingin memperkuat identitas Jakarta melalui klub sepak bola kebanggaan warganya.
Gubernur disebut memiliki gagasan untuk menjadikan Persija sebagai bagian dari strategi membangun citra Jakarta sebagai kota global.
“Pak Gubernur pernah menyampaikan bahwa beliau ingin Jakarta lebih Persija. Dari situ kami dipanggil untuk berdiskusi mengenai bentuk kolaborasi yang bisa dilakukan,” kata Prapanca.
Ia menegaskan bahwa sponsor yang masuk tidak diberikan secara langsung tanpa tujuan. Semua kerja sama memiliki konsep dan program yang jelas.
Setelah melalui sejumlah pembahasan di tingkat pemerintah daerah, beberapa BUMD akhirnya ditunjuk untuk menjalin kerja sama dengan Persija.
Persija Jadi Media Sosialisasi Program BUMD
Prapanca menilai kolaborasi antara Persija dan perusahaan milik daerah memiliki manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Salah satunya adalah membantu menyebarkan informasi mengenai berbagai program layanan publik.
Sebagai contoh, kerja sama dengan PAM Jaya bertujuan untuk membantu masyarakat Jakarta lebih memahami program distribusi air bersih.
“Banyak masyarakat yang tidak tahu program PAM. Melalui Persija, program tersebut bisa disosialisasikan secara lebih luas,” ujarnya.
Hal serupa juga berlaku untuk perusahaan lain seperti MRT Jakarta dan TransJakarta.
Persija memanfaatkan kanal media sosial klub serta berbagai aktivitas promosi untuk membantu memperkenalkan fasilitas transportasi publik kepada masyarakat.
Persija Bantu Rebranding Bank Jakarta

Kerja sama dengan Bank Jakarta juga memiliki tujuan strategis. Prapanca menjelaskan bahwa bank milik pemerintah daerah tersebut tengah menjalani proses rebranding dari sebelumnya dikenal sebagai Bank DKI.
Menurutnya, Persija dipilih sebagai mitra promosi karena memiliki basis penggemar yang sangat besar.
“Persija adalah salah satu ikon Jakarta yang dikenal secara nasional. Ketika Persija bermain di berbagai kota, nama Bank Jakarta juga ikut terekspos,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut merupakan strategi pemasaran yang dinilai lebih efektif dibandingkan menggunakan jasa konsultan promosi dengan biaya besar.
Promosi Transportasi Publik Lewat Konten Persija
Kerja sama dengan MRT Jakarta dan TransJakarta juga memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap transportasi publik di ibu kota.
Melalui berbagai konten di media sosial Persija, publik diajak mengenal berbagai fasilitas transportasi modern yang tersedia di Jakarta.
“Kami membuat konten yang menampilkan fasilitas MRT atau rute TransJakarta. Tujuannya agar masyarakat lebih mengenal layanan tersebut,” kata Prapanca.
Dengan jumlah pengikut media sosial yang besar, Persija dianggap sebagai kanal promosi yang efektif.
Persija Didorong Jadi Bagian dari Global City

Prapanca menyebut bahwa salah satu visi besar pemerintah daerah adalah menjadikan Jakarta sebagai global city.
Dalam rencana tersebut, olahraga, khususnya sepak bola, dianggap memiliki peran penting dalam meningkatkan citra kota di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, Persija bisa menjadi salah satu duta kota Jakarta dalam mewujudkan visi tersebut.
Namun ia juga berharap rivalitas antarsuporter tidak berkembang menjadi provokasi yang merugikan klub.
“Rivalitas itu hanya ada selama pertandingan 2×45 menit di stadion. Di luar itu kita semua tetap bisa berteman,” ujarnya.
Kerja Sama Bisa Diaudit
Prapanca juga menegaskan bahwa semua kerja sama antara Persija dan BUMD memiliki mekanisme yang transparan.
Setiap program yang dijalankan dapat diaudit oleh berbagai lembaga pengawas seperti BPKP, BPK, dan inspektorat internal.
Karena itu, ia menilai tudingan bahwa Persija menerima dana APBD secara bebas tidak berdasar.
“Semua kerja sama ada perjanjiannya dan tidak bisa dilakukan sembarangan. Kalau klub lain ingin melakukan hal serupa dengan pemerintah daerah masing-masing, itu juga bagus,” katanya.
Menurut Prapanca, kolaborasi antara klub sepak bola dan pemerintah daerah justru bisa menjadi langkah positif untuk mengembangkan industri olahraga di Indonesia.

