Jean-Paul van Gastel memberi instruksi kepada pemain PSIM Yogyakarta di BRI Super League 2025/2026Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul Van Gastel saat memberikan instruksi di pinggir lapangan ketika melawan Persebaya Surabaya pada BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (8/8/2025).

Scorepost, YogyakartaPSIM Yogyakarta di musim 2025/2026 BRI Super League tidak datang secara instan. Di balik performa stabil Laskar Mataram yang mampu bersaing di papan atas, terdapat peran besar pelatih kepala Jean-Paul van Gastel, sosok yang dinilai membawa arah dan identitas permainan yang jelas.

Hingga pekan ke-17 BRI Super League 2025/2026, PSIM bertengger di peringkat keenam klasemen sementara dengan koleksi 33 poin. Raihan tersebut berasal dari delapan kemenangan, enam hasil imbang, dan hanya tiga kekalahan—catatan yang membuat PSIM sejajar dengan klub-klub mapan dalam persaingan menuju zona atas.

Manajer tim PSIM, Razzi Taruna, menegaskan bahwa keputusan manajemen dalam menunjuk pelatih menjadi faktor paling krusial di balik pencapaian tersebut.

Pemilihan Pelatih Jadi Fondasi Utama

BRI Super League
Manajer PSIM, Razzi Taruna (tengah) mencium trofi juara Pegadaian Liga 2 2024/2025 setelah mengalahkan Bhayangkara FC dalam laga final yang berlangsung di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/02/2025).

Menurut Razzi Taruna, proses pencarian pelatih PSIM tidak dilakukan secara terburu-buru. Manajemen benar-benar memprioritaskan kecocokan filosofi, pengalaman, serta kemampuan membangun tim dalam jangka panjang.

Ia mengakui bahwa dirinya masih memiliki keterbatasan pengalaman dalam mengelola klub di level tertinggi. Namun, kehadiran Jean-Paul van Gastel justru menjadi ruang belajar yang sangat berharga bagi seluruh elemen tim, termasuk manajemen.

Setiap hari, PSIM tidak hanya berkembang di atas lapangan, tetapi juga dalam aspek profesionalisme, komunikasi, dan pengambilan keputusan. Van Gastel dikenal detail dalam setiap sesi latihan dan diskusi, membuat seluruh struktur klub dituntut untuk bekerja lebih disiplin dan terencana.

Pendekatan tersebut berdampak langsung pada performa tim di lapangan. PSIM tampil lebih terorganisir, solid dalam bertahan, serta efektif saat memanfaatkan peluang—sesuatu yang kerap menjadi pembeda dalam pertandingan ketat.

Proyek Jangka Panjang Sudah Disiapkan

Melihat progres positif yang ditunjukkan tim, manajemen PSIM tidak ingin kesuksesan ini hanya bersifat sementara. Razzi Taruna mengungkapkan bahwa pembicaraan terkait kerja sama jangka panjang dengan Jean-Paul van Gastel sudah mulai dirancang.

Ia menyadari bahwa dinamika opini publik dan media tidak selalu sejalan dengan proses yang sedang dibangun klub. Namun, manajemen berharap publik bisa memberi ruang dan kepercayaan kepada sang pelatih untuk menjalankan visinya.

Meski demikian, Razzi menegaskan bahwa budaya diskusi tetap dijaga. Kritik konstruktif tetap disampaikan kepada staf pelatih, baik dari manajemen maupun internal tim. Menariknya, Van Gastel selalu mampu menjelaskan alasan di balik setiap keputusan taktis yang diambilnya, menunjukkan pendekatan profesional berbasis analisis.

Keterbukaan ini dinilai menciptakan lingkungan kerja yang sehat, di mana keputusan tidak diambil secara sepihak, tetapi melalui pertimbangan matang.

Pemain Asing Berpengalaman Jadi Penopang

PSIM Yogyakarta
Pemain PSIM Yogyakarta, Nermin Haljeta saat timnya melawan Persebaya Surabaya pada BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (8/8/2025).

Selain faktor pelatih, PSIM juga diuntungkan oleh komposisi pemain asing yang relatif matang dan berpengalaman di Liga Indonesia. Razzi Taruna menilai bahwa adaptasi pemain asing musim ini berjalan lebih cepat karena mayoritas dari mereka sudah memahami karakter sepak bola nasional.

Dari sembilan pemain asing yang dimiliki PSIM, enam di antaranya pernah bermain di Indonesia. Nama-nama seperti Ezequiel Vidal, Deri Corfe, Ze Valente, Rakhmatsho Rakhmatzoda, Nermin Haljeta, dan Yusaku Yamadera menjadi tulang punggung dalam menjaga stabilitas performa tim.

Kehadiran mereka tidak hanya memberi kualitas teknis, tetapi juga kepemimpinan di lapangan. Kolaborasi antara pemain asing berpengalaman dan pemain lokal yang lapar prestasi menciptakan keseimbangan yang ideal dalam skuad Laskar Mataram.

Konsistensi Jadi Tantangan Berikutnya

Meski berada di jalur positif, PSIM menyadari bahwa perjalanan musim masih panjang. Persaingan di papan atas BRI Super League sangat ketat, dan satu kesalahan kecil bisa berdampak signifikan pada posisi klasemen.

Namun, dengan fondasi yang telah dibangun—mulai dari pelatih yang tepat, struktur tim yang solid, hingga komposisi pemain yang seimbang—PSIM memiliki alasan kuat untuk optimistis menatap sisa musim.

Jika konsistensi ini mampu dipertahankan, bukan tidak mungkin Laskar Mataram akan terus menjadi kuda hitam yang merepotkan tim-tim besar dan membuka peluang mencetak sejarah baru di level tertinggi sepak bola Indonesia.

Sumber: PSIM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *